Blog Suara Hati

Berbagi dengan sepenuh hati untuk kebaikan umat manusia

Browsing Posts in Islam

Sekitar tahun 1980-an, di Jalan Saharjo_Tebet_Jakarta Selatan ada sebuah hotel yang memiliki klub malam bernama “Santai Music Club”. Tamu-tamu akan dimanjakan dengan perempuan-perempuan cantik yang siap menemani tamu sampai ke dalam kamar hotel.

Para lady companion (LC) itu duduk-duduk di dalam sebuah ruangan yang bisa dilihat dari luar. Mereka seperti di dalam aquarium. Mereka bertugas menemani tamu di klub malam bahkan bisa dibooking ke luar.

Selain memiliki klub malam dan karaoke, hotel yang terletak di depan Universitas Sahid itu, juga memiliki diskotek dan panti pijat. Karena memiliki akomodasi hiburan yang lumayan lengkap, banyak para penikmat hiburan malam yang berkunjung ke kawasan hotel tersebut. Apalagi tarif menginap di hotel tersebut relatif murah, yakni Rp 180 ribuan per malam.

Karena tarifnya yang murah, banyak tamu yang memanfaatkan hotel tersebut hanya untuk tempat berkencan saja. Hotel itu lebih sering dipakai untuk kencan short time aja, karena harganya murah.

Kondisi tersebut diakui Riyanto Sofyan, pemilik grup Hotel Sofyan. Riyanto tidak menampik kalau hotel miliknya yang ada di wilayah Tebet tersebut, dahulu kerap dijadikan sasaran bagi pria hidung belang atau para penikmat hiburan malam. Menurut Riyanto, di antara hotel-hotel Grup Sofyan, Hotel Sofyan Tebet tingkat huniannya yang paling tinggi. Sementara Hotel Sofyan Cikini serta Hotel Sofyan Betawi, tingkat huniannya biasa-biasa saja.

“Kalau di Hotel Sofyan Tebet, satu kamar saja yang check-in bisa 2 sampai 3 tamu. Mereka umumnya hanya memakai kamar untuk berkencan singkat saja,” ungkap Riyanto. Continue reading “Bisnis Hotel Berkonsep Syariah” »

Imam Al Syathibi prihatin dengan semakin jauhnya penafsiran fikih para ulama di Grenada atas masalah-masalah kemasyarakatan yang timbul ketika itu. Beliau lahir di Grenada, Spanyol, pada tahun 730 Hijriyah (H). Ia hidup di masa pemerintahan Bani Ahmar yang merupakan keturunan keluarga besar sahabat Rasulullah SAW dari kalangan Anshar yang bernama Sa’ad bin Ubadah.

Tidak diragukan lagi, sejak awal pemerintahan Islam di Spanyol, pemerintahan berusaha mengidentikkan dirinya dengan pemerintahan Rasulullah. Dalam salah satu ungkapan terkenalnya, Raja Hisyam al-Awwal bin Abdurrahman ad-Dakhil yang memerintah dari tahun 173-180 H berkata kepada para ulama, “Bukankah Imam Abu Hanifah berasal dari Kufah, sedangkan Imam Malik berasal dari Madinah, cukup bagi kami mengikuti pendapat imam asal tempat Rasulullah SAW menjalankan pemerintahannya.”

Tekad suci itu mengalami sandungan di sana-sini karena penafsiran fikih yang semakin jauh dari maksud hakiki syariah yang mengikuti keinginan raja yang memang tidak memahami syariah selayaknya seorang ulama.

Dalam keadaan itulah, Imam al Syathibi menulis kitab al Muwafaqat yang menjelaskan konsep al-maqasid al-syariah agar para ulama dalam mengambil penafsiran fikih selalu berpegang pada maksud hakiki syariah, berpegang pada roh syariah, bukan sekadar pada formalitasnya. Awalnya, beliau akan menamakan kitabnya al-Ta’rif bi Asrar al-Taklif (penafsiran atas hukum syariah yang tertulis). Namun, beliau tidak ingin kitabnya dianggap sebagai satu-satunya penafsiran.

Maqasid Syariah sangat mirip dengan Pancasila, bahkan dapat dikatakan Pancasila adalah Maqasid Syariah tafsiran Indonesia. Maqasid Syariah mengandung lima hal, yaitu melindungi agama yang dalam Pancasila disebut ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Kedua, melindungi jiwa yang dalam Pancasila disebut ‘Perikemanusiaan yang adil dan beradab’. Ketiga, melindungi keutuhan keluarga besar yang dalam Pancasila disebut ‘Persatuan Indonesia’. Keempat, melindungi akal pendapat yang dalam Pancasila disebut ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’. Kelima, melindungi hak atas harta yang dalam Pancasila disebut ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’. Continue reading “Ekonomi Pancasila” »

Raksasa penyedia kartu kredit dunia, Mastercard, meluncurkan sebuah kartu kredit baru bebas bunga pertama di Amerika Utara, medio Maret 2010 lalu. Kartu kredit yang mengadopsi sistem syariah ini dapat digunakan baik oleh kalangan Muslim maupun non-Muslim. Kartu ini diberi label iFreedom Plus Mastercard ini.

Pengelolanya menjanjikan, tak ada tagihan bunga dalam billing statement tiap bulannya, tak seperti kartu kredit konvensional yang dianggap mencekik saat krisis ekonomi melanda wilayah ini. Dengan iFreedom Plus Mastercard, pemegang bisa berbelanja di muka hingga 6.000 dolar AS tanpa bunga. Pemegang kartu hanya diwajibkan membayar 50 dolar AS untuk dua tahun penggunaan dan setiap transfer dari kas ke kartu dikenakan biaya 95 sen. Dan karena produk baru tidak sebenarnya melibatkan kredit, pemohon disetujui tanpa pemeriksaan kredit.

Kartu ini diluncurkan pada Konferensi Bebas Riba se-Amerika Utara yang pertama di Toronto. Account kartu akan dikelola oleh Mint Technology, yang beroperasi juga pada program lain, kartu prabayar.

Dalam banyak hal Indonesia memang selalu ketinggalan, bahkan oleh negara barat dimana muslim di sana minoritas. Terobosan  layanan kartu kredit bebas riba ini seharusnya segera diadopsi oleh perbankan di Indonesia, tentu setelah melalui kajian mendalam oleh para ahli syariah terkait manfaat dan mudharatnya. Saya adalah orang yang anti kartu kredit, namun kalo ada kartu kredit seperti iFreedom Plus Mastercard ini mungkin saya akan pertimbangkan untuk mulai menggunakan kartu kredit juga, he he he.

Sejak krisis likuiditas global bermula dua tahun lalu, perhatian dunia telah beralih kepada negara-negara penghasil minyak di kawasan teluk persia, khususnya negara-negara yang tergabung dalam blok ekonomi GCC (Gulf Cooperation Council). Hal ini disebabkan negara-negara anggota GCC memiliki surplus likuiditas yang cukup tinggi dibandingkan kawasan-kawasan lain di belahan dunia. Salah satu faktor yang menyebabkan masih tingginya likuiditas di negara GCC adalah kenaikan drastis harga minyak dunia pada tahun 2008 lalu. Tingginya likuiditas di kawasan ini bahkan sampai memaksa perdana menteri Inggris, Gordon Brown, untuk melakukan tur di kawasan ini demi mencari suntikan dana agar menyelamatkan ekonomi Inggris dari kehancuran.

GCC adalah sebuah blok ekonomi yang beranggotakan enam negara, yaitu Kuwait, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab. Keenam negara di atas merupakan negara dengan pendapatan per kapita yang cukup tinggi dengan minyak sebagai komoditas utama penggerak perekonomian. Bahkan, pendapatan dari royalti produksi minyaknya sudah cukup untuk membuat negara-negara di kawasan ini untuk tidak terlalu menggantungkan pendapatan negaranya dari penarikan pajak. Hal ini menyebabkan kawasan ini terkenal sebagai kawasan dengan tingkat persentase pajak yang relatif rendah. Sebagai gambaran, dari surplus ekspor minyaknya, Kuwait bahkan bisa menyisihkan dana dalam jumlah yang besar bagi generasi penerusnya yang dikenal dengan Reserve Fund for Future Generation (RFFG). Sebagian besar surplus kekayaan tersebut tentunya pasti diinvestasikan dalam bentuk Investasi langsung (direct investment) ataupun investasi di pasar modal dan keuangan lokal maupun internasional. Kalau di masa lalu investasi surplus minyak atau yang dikenal dengan petrodollar terfokus di Eropa dan Amerika Serikat, sekarang sejak krisik moneter melanda dunia otoritas investasi negara-negara teluk mulai mengalihkan investasinya ke negara-negara berkembang di kawasan Asia Pasifik dan Amerika latin. Continue reading “Melirik Aliran Dana Dari Teluk” »